Dibalik Keraguan
Kala itu di sore
hari, angin berhembus menerobos lubang-lubang jendela ruang tamu. Awan hitam
menyelimuti langit menunggu aba-aba Tuhan menurunkan hujan. Gerimis mulai
mendarat perlahan namun semakin besar. Seminggu sudah setiap sore menuju malam
hujan berjatuhan membasahi rumah ku. Menengadah ku di dalam keheningan.
Menikmati suara hujan yang jatuh keatap rumah walau hanya kecil suaranya.
Sambil menikmatinya ku teringat masa-masa lalu. Ku memasuki setiap memori akan
semua yang telah terjadi didalam kehidupan ku ini. Kilat petir terkadang
membingungkan ku.
Berjalan mencari tempat lain untuk menikmati keadaan yang tenang ini. Aku pun memasuki salah satu pintu berwarna coklat untuk merebahkan badan dengan masih ditemani suara hujan. Terdengar sebuah suara yang sangat aku kenal. Ku terdiam..... Sampai suara itu mendekat lebih lagi ke ruangan dimana aku berada.
“Anak ku...anak ku....” panggilnya dengan keras
“Yaaaaa....” jawab
ku dengan pelan
“Apa yang sedang
kau lakukan sendirian di dalam ruangan ini?” ujar Ibu ku
“Ibu.... aku sedang
menikmati kesejukan sambil mengingat memori kehidupan ku. Memori terbaik bahkan
terburuk...”
“Baik kalau seperti
itu Ibu akan meninggalkan mu kembali di ruangan ini agar segala yang sedang kau
lakukan semakin nyaman nak... maaf jika menggangu mu karena Ibu hanya ingin
memastikan malaikat kecil ku baik-baik saja” ujar Ibu sambil menghelus rambut
ku.
“Tapi bu apa aku
boleh bertanya kepada mu yang sudah menjaga diri ku dan menjalani hari-hari
bersama” ujarku sambil menunduk
“Tanyakan jika ada
yang ingin kau tahu karena semasa hidup mu, tidak ada yang Ibu sembunyikan nak...”
“Cita-cita terbesar
apa yang ingin Ibu dan Ayah dapatkan dari diri ku kelak? tanya ku
“Menjadi yang
terbaik dengan apa adanya diri mu dan bahagia dengan apa yang kamu jalani saja
nak” ujar Ibu dengan penuh kelembutan.
__
Terus ku menginggat memori kehidupan ku. Satu memori selalu muncul didalam benak ku. Memori itu adalah memori saat aku harus memutuskan peningkatan kehidupan dari siswa menjadi mahasiswa.Aku menulis sebuah impian dikertas kecil berwarna putih bergaris. Ku mulai goreskan tinta diatas kertas dengan penuh keyakinan. Tapi muncul sedikit keraguan saat ku mulai menggoreskan kata demi kata yaitu “ahhh apakah mungkin sebuah kata atau kalimat yang ditulis di kertas akan terwujud menjadi sebuah impian?” pikir ku dengan ragu.
Menulis impian tersebut terjadi karena aku menyadari waktu terus berjalan. Masa kehidupan akan berubah. Masa menjadi mahasiswa akan ku jalani walau aku belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam fase kehidupan ini.Disaat aku sibuk memikirkan dan mencatat impian.
Aku teringat mimpi
terbesar Ibu dan Ayah yang ingin anak-anaknya mengemban pendidikan di perguruan
tinggi negeri. Impian mereka didasari pada keyakinan yang penuh akan kualitas
seorang yang lulus dari perguruan tinggi negeri. Padahal ku rasa tidak semua seperti
itu.
Yakin dan jangan salah memilih yang selalu aku gumulkan. Percaya didalam diri akan doa yang ku yakini ada terus mengiringi jalan kehidupan ku ini. Rasa ragu masih terus ada karena keyakinan yang belum sepenuhnya hadir dalam diri ku.“Buat apa kami meragukan kamu nak? Percaya engkau hidup bukan karena kekuatan mu sendiri tapi karena ada Tuhan dan orang-orang yang selalu mendukung mu” Mungkin kalimat itu yang terus menjadi peganggan ku saat diri ku sudah mulai ragu menjalani kehidupan bahkan ragu akan merealisasikan impian yang sudah ku tulis itu.
Aku mungkin ingat betapa hancurnya perasaan orang-orang terdekat ku kalau mereka tahu aku tidak berusaha untuk merealisasikan impian yang sudah ku tulis itu. Aku hanya menangis kalau mengingat keraguan ku itu bisa aku patahkan dengan semangat dan merubahnya menjadi keyakinan.Kini impian yang sudah ku tulis bukan lagi ada diselembar kertas putih bergaris dengan goresan pulpen saja yang menempel pada lemari di kamar ku. Tetapi tulisan itu sudah menjadi kenyataan hidup yang menjadi rutinitas ku sekarang.
Bangga, senang, haru, dan bersyukur tak henti akan selalu mengiringi langkah
kehidupan ku jika aku mengingat memori kehidupan. Jika aku mengingat segala
proses. Seperti pelangi sehabis hujan yang muncul dengan indah. Seperti burung
yang terbang di udara tanpa tau arah namun tetap percaya angin membawanya
kemana. Begitu pula kehidupan ku.
Bermimpilah
setinggi-tingginya karena saat kau terjatuh setidaknya kamu terjatuh diantara
bintang-bintang. Bekerja keraslah karena hasil tidak akan mengkhianati usaha.
Berjalanlah lurus karena kita manusia tidak akan tahu apa yang akan terjadi
dalam kehidupan ini. Baik atau pun buruk hanya Tuhan yang menciptakannya.
Senang dan sedih akan berganti dalam kehidupan ini. Melankolis tampaknya namun
ini benar terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar