Jumat, 28 Oktober 2016

Dibalik Keraguan

Dibalik Keraguan

Kala itu di sore hari, angin berhembus menerobos lubang-lubang jendela ruang tamu. Awan hitam menyelimuti langit menunggu aba-aba Tuhan menurunkan hujan. Gerimis mulai mendarat perlahan namun semakin besar. Seminggu sudah setiap sore menuju malam hujan berjatuhan membasahi rumah ku. Menengadah ku di dalam keheningan. Menikmati suara hujan yang jatuh keatap rumah walau hanya kecil suaranya. Sambil menikmatinya ku teringat masa-masa lalu. Ku memasuki setiap memori akan semua yang telah terjadi didalam kehidupan ku ini. Kilat petir terkadang membingungkan ku.

Berjalan mencari tempat lain untuk menikmati keadaan yang tenang ini. Aku pun memasuki salah satu pintu berwarna coklat untuk merebahkan badan dengan masih ditemani suara hujan. Terdengar sebuah suara yang sangat aku kenal. Ku terdiam..... Sampai suara itu mendekat lebih lagi ke ruangan dimana aku berada.

“Anak ku...anak ku....” panggilnya dengan keras
“Yaaaaa....” jawab ku dengan pelan
“Apa yang sedang kau lakukan sendirian di dalam ruangan ini?” ujar Ibu ku
“Ibu.... aku sedang menikmati kesejukan sambil mengingat memori kehidupan ku. Memori terbaik bahkan terburuk...”
“Baik kalau seperti itu Ibu akan meninggalkan mu kembali di ruangan ini agar segala yang sedang kau lakukan semakin nyaman nak... maaf jika menggangu mu karena Ibu hanya ingin memastikan malaikat kecil ku baik-baik saja” ujar Ibu sambil menghelus rambut ku.
“Tapi bu apa aku boleh bertanya kepada mu yang sudah menjaga diri ku dan menjalani hari-hari bersama” ujarku sambil menunduk
“Tanyakan jika ada yang ingin kau tahu karena semasa hidup mu, tidak ada yang Ibu sembunyikan nak...”
“Cita-cita terbesar apa yang ingin Ibu dan Ayah dapatkan dari diri ku kelak? tanya ku
“Menjadi yang terbaik dengan apa adanya diri mu dan bahagia dengan apa yang kamu jalani saja nak” ujar Ibu dengan penuh kelembutan.

__

Terus ku menginggat memori kehidupan ku. Satu memori selalu muncul didalam benak ku. Memori itu adalah memori saat aku harus memutuskan peningkatan kehidupan dari siswa menjadi mahasiswa.Aku menulis sebuah impian dikertas kecil berwarna putih bergaris. Ku mulai goreskan tinta diatas kertas dengan penuh keyakinan. Tapi muncul sedikit keraguan saat ku mulai menggoreskan kata demi kata yaitu “ahhh apakah mungkin sebuah kata atau kalimat yang ditulis di kertas akan terwujud menjadi sebuah impian?” pikir ku dengan ragu.

Menulis impian tersebut terjadi karena aku menyadari waktu terus berjalan. Masa kehidupan akan berubah. Masa menjadi mahasiswa akan ku jalani walau aku belum  tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam fase kehidupan ini.Disaat aku sibuk memikirkan dan mencatat impian. 
Aku teringat mimpi terbesar Ibu dan Ayah yang ingin anak-anaknya mengemban pendidikan di perguruan tinggi negeri. Impian mereka didasari pada keyakinan yang penuh akan kualitas seorang yang lulus dari perguruan tinggi negeri. Padahal ku rasa tidak semua seperti itu.

Yakin dan jangan salah memilih yang selalu aku gumulkan. Percaya didalam diri akan doa yang ku yakini ada terus mengiringi jalan kehidupan ku ini. Rasa ragu masih terus ada karena keyakinan yang belum sepenuhnya hadir dalam diri ku.“Buat apa kami meragukan kamu nak? Percaya engkau hidup bukan karena kekuatan mu sendiri tapi karena ada Tuhan dan orang-orang yang selalu mendukung mu” Mungkin kalimat itu yang terus menjadi peganggan ku saat diri ku sudah mulai ragu menjalani kehidupan bahkan ragu akan merealisasikan impian yang sudah ku tulis itu.

Aku mungkin ingat betapa hancurnya perasaan orang-orang terdekat ku kalau mereka tahu aku tidak berusaha untuk merealisasikan impian yang sudah ku tulis itu. Aku hanya menangis kalau mengingat keraguan ku itu bisa aku patahkan dengan semangat dan merubahnya menjadi keyakinan.Kini impian yang sudah ku tulis bukan lagi ada diselembar kertas putih bergaris dengan goresan pulpen saja yang menempel pada lemari di kamar ku. Tetapi tulisan itu sudah menjadi kenyataan hidup yang menjadi rutinitas ku sekarang.


Bangga, senang, haru, dan bersyukur tak henti akan selalu mengiringi langkah kehidupan ku jika aku mengingat memori kehidupan. Jika aku mengingat segala proses. Seperti pelangi sehabis hujan yang muncul dengan indah. Seperti burung yang terbang di udara tanpa tau arah namun tetap percaya angin membawanya kemana. Begitu pula kehidupan ku.

Bermimpilah setinggi-tingginya karena saat kau terjatuh setidaknya kamu terjatuh diantara bintang-bintang. Bekerja keraslah karena hasil tidak akan mengkhianati usaha. Berjalanlah lurus karena kita manusia tidak akan tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan ini. Baik atau pun buruk hanya Tuhan yang menciptakannya. Senang dan sedih akan berganti dalam kehidupan ini. Melankolis tampaknya namun ini benar terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar